Pelajaran Hidup dari Lance Armstrong
Salah satu pebalap sepeda Amerika yang terkenal dan sukses yaitu
Lance Armstrong akhirnya mengakui dirinya berbohong, dalam interview dengan Oprah Winfrey.
Pengakuan mengejutkan ini muncul setelah sebelumnya ia terus membantah tuduhan doping yang
diajukan kepadanya. Gelar juara 7 kali tour de France pun akhirnya dilucuti
dari dirinya dan dilarang untuk mengikuti kompetisi balap sepeda seumur hidup. Armstrong
tadinya seorang inspirasi hidup yang tangguh dan hebat di dalam dan di luar
dunia balap sepeda tapi kini reputasinya menjadi hancur karena kebohongan yang
tidak bisa lagi ditutupinya.
Armstrong sebelumnya dikenal sebagai seorang yang tidak
hanya tangguh dalam dunia balap sepeda tapi dia juga seorang yang mampu menaklukan
kanker prostat dan mendirikan yayasan Livestrong yang berupaya melakukan riset
untuk penyembuhan kanker.
Lance Armstrong di luar balap sepeda sebenarnya adalah
seorang yang tangguh dan luar biasa dalam menghadapi tantangan hidup. Dia
ditinggalkan ayahnya pada saat berusia dua tahun. Dibesarkan tanpa ayah pasti
sangatlah berat tapi dia bisa melalui semuanya itu.
Dia juga seorang kanker survivor, ia mampu menaklukan
penyakit kanker. Dua kali menjalani operasi dan berkali-kali kemoterapi
tentulah sangat menyakitkan. Tapi dia tidak sekedar bertahan tapi mampu
mengalahkan penyakit ini yang sempat menyebar ke berbagai bagian tubuh.
Ketangguhannya menghadapi penyakit dan kembali bertarung
dalam olah raga serta menjadi juara menjadi inspirasi bagi banyak orang. Lance
Armstrong juga mendirikan yayasan kanker untuk membantu dalam riset dan
penyembuhan penyakit kanker.
Sayangnya, Lance Armstrong memakai cara yang curang dalam
olah raga balap sepeda. Berkali-kali dia membantah tuduhan doping yang diduga
dilakukannya. Pada akhirnya dalam
interview dengan Oprah Winfrey dia mengakui bahwa dia telah melakukan
kecurangan.
Pertanyaannya, kenapa Lance Armstrong mati-matian berbohong?
Atau kenapa dia terus mau memakai doping yang jelas-jelas diharamkan dalam
dunia olah raga?
Pertama, hasrat atau keinginannya untuk tampil hebat atau
besar dengan cara short cut. Kejatuhan dari Armstrong tidak hany memperlihatkan
self-destruction alias penghancuran dirinya tapi jugba suatu pengkhianatan terhadap
suatu prinsip hidup yang penting. Bahwa kebesaran dan keagungan itu diperoleh
dengan cara ketekunan, kerja keras dan integritas. Armstrong ingin mendapatkan kebesarannya
tetapi dengan cara doping yang jelas illegal. Ia mengklaim kebesaran dan
pencapaiannya tapi dengan cara berbohong secara sembunyi-sembunyi. Dia
mengkhianati kepercayaan public terhadap dirinya bertahun-tahun, dalam setiap
kayuhan sepeda atau arena balap. Dia juga ibaratnya membohongi tubuhnya dengan
menginjeksi bahan illegal demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
Kedua, pengejaran akan kehebatan yang dilakukan Armstrong
berorientasi pada uang atau power. Seorang pengamat olah raga menyatakan bahwa ada perbedaan dalam kultur olah raga
saat ini yaitu bukan lagi pengejaran untuk menjadi ekselen atau menjadi “besar”
dengan cara yang sportif tapi sekarang berubah menjadi pengejaran akan uang,
power dan segala sesuatu yang dulu bahkan tidak pernah terbesit dalam pikiran
atlit jaman dulu seperti Jesse Owens. Armstrong bahkan mengintimidasi
lawan-lawannya, memamerkan foto dirinya dengan deretan tujuh kaos kuning di profil Twitternya, dan sejak
balapan pertama tuduhan doping diajukan dia malah meremehkan dan dengan bangga
membuktikan bahwa dia bersih.
Ketiga, Armstrong hidup dalam ilusi atau fantasi. Ia tidak
hanya hidup dalam kebohongan tetapi penyangkalan akan realita atau fakta
mengenai dirinya. Armstrong menyatakan bahwa dia tidak pernah memakai doping
dan malah balik menuduh orang-orang yang menuduhnya doping. Armstrong malah menyatakan
bahwa pemerintah berkonspirasi untuk menghancurkannya. Dia menyerang
teman-temannya yang menuduhnya doping dan menyewa lawyer untuk menyerang
lawan-lawannya. Ia menantang media
dengan menyatakan,”This is my body,” apapun bisa saya lakukan untuk tubuh saya.
Kenyataannya dia melakukan apapun termasuk mencurangi tubuhnya sendiri. Armstrong tidak hanya melukai dan membohongi
fansnya, pemerintah, para sponsor tapi juga tubuhnya sendiri!
Keempat, mendefinisikan kebohongan berdasarkan pandangannya
sendiri. "“Definisi curang adalah mengambil keuntungan dari lawan atau musuh. Saya tidak memandangnya seperti itu. Saya melihatnya sebagai arena bertanding. Saya tidak mengerti besarnya masalah itu. Yang penting adalah saya mulai memahaminya.." Ia tidak merasa bahwa ia telah berbuat curang, merasa apa yang diperbuatnya benar karena baginya apa yang
dilakukannya itu bukan kebohongan, Dia menganggap doping itu cara untuk bermain
ke level yang lebih tinggi. Itu sebabnya dia tidak merasa bersalah.
Mendefinisikan sendiri kebohongan dan malah membenarkan kebohongan yang dibuat sendiri
adalah berbahaya karena acuannya adalah pikiran sendiri. Ini celaka karena
tolok ukur kebenaran bukan kita sendiri.
Seperti biasa, penyesalan selalu datang belakangan. Konsekuensinya harus dia hadapi : kemarahan orang-orang, pencopotan gelar, penarikan diri para sponsor dan yang lebih berharga atau penting lagi adalah hilangnya kepercayaan orang terhadapnya. Armstrong mengakui: “Saya melihat kemarahan pada diri orang-orang, pengkhianatan. Semuanya ada di sana. Orang yang percaya dan mendukung saya dan mereka berhak merasa dikhianati dan itu kesalahan saya dan saya akan menghabiskan seumur hidup saya berusaha mendapatkan kembali kepercayaan mereka dan meminta maaf pada mereka.” Tampaknya semuanya itu sudah terlambat.
Kisah Armstrong adalah pelajaran betap pentingnya hidup dalam kejujuran. Kita manusia tidak mau dibohongi tetapi kerap kita berbohong saat kita merasa harus berbohong. Kita tidak mau ditipu tapi kita tidak akan keberatan saat merasa harus berbohong. Kita dilahirkan dengan dorongan untuk berbohong terhadap siapapun. Lance Armstrong adalah pelajaran hidup bagaimana manusia harus berjuang untuk mengatasi kebohongan. Ketika kebohongan pertama dilakukan dan dibiarkan maka kebohongan itu akan terus berkembang semakin berlapis. Hal ini diakui sendiri oleh Lance Armstrong. Terbiasa hidup dalam kebohongan akan membuat manusia kebal. Dan ingat, tidak ada harapan dalam kebohongan.
Kisah Armstrong adalah pelajaran betap pentingnya hidup dalam kejujuran. Kita manusia tidak mau dibohongi tetapi kerap kita berbohong saat kita merasa harus berbohong. Kita tidak mau ditipu tapi kita tidak akan keberatan saat merasa harus berbohong. Kita dilahirkan dengan dorongan untuk berbohong terhadap siapapun. Lance Armstrong adalah pelajaran hidup bagaimana manusia harus berjuang untuk mengatasi kebohongan. Ketika kebohongan pertama dilakukan dan dibiarkan maka kebohongan itu akan terus berkembang semakin berlapis. Hal ini diakui sendiri oleh Lance Armstrong. Terbiasa hidup dalam kebohongan akan membuat manusia kebal. Dan ingat, tidak ada harapan dalam kebohongan.
Dalam akhir interview, hostnya menyatakan
bahwa”kebenaran akan membebaskan engkau”. Kutipan dari kitab Suci. Benar tapi sayang
hanya dikutip sebagian. Kebenaran itu hanya bisa ditemukan dalam Yesus.
Kebenaran hanya bisa didapatkan di dalam Dia. Dialah yang memampukan siapapun
untuk hidup dalam kebenaran dan berjuang melawan kebohongan di dunia ini.
Post a Comment